Halaman

Selasa, 26 April 2011

Terhambat Izin Ekspor, Pengusaha Jamu Lapor ke Wapres” plus 1 info menarik lainnya

Terhambat Izin Ekspor, Pengusaha <b>Jamu</b> Lapor ke Wapres” plus 1 info menarik lainnya


Terhambat Izin Ekspor, Pengusaha <b>Jamu</b> Lapor ke Wapres

Posted: 26 Apr 2011 05:17 AM PDT

JAKARTA - Ketua I Gabungan Pengusaha Jamu dan Obat Tradisional Tjandra Sridjaya mengatakan industri jamu nasional menghadapi hambatan perizinan ekspor jamu dan lambatnya perkembangan pasar domestik.

Karena itu, dia meminta pemerintah segera mengambil tindakan tegas, agar industri jamu tidak semakin kolaps yang berpotensi mengurangi jumlah tenaga kerja. “Hambatan itu sudah kami sampaikan kepada Wapres Boediono, Senin 25 April kemarin," ujar Tjandra, di Jakarta, Selasa (26/4/2011).

Mengenai tanggapan Boediono, jelas Tjandra, sangat responsif. Kalangan pengusaha yang tergabung di GP Jamu diminta mengajukan blue print (cetak biru) industri jamu nasional. Nantinya, hasil cetak biru akan disampaikan kepada Menko Kesra yang membawahi perkembangan industri jamu di dalam negeri.

Menurut Tjandra, perkembangan pasar jamu yang stagnan akibat penyebaran jamu bahan kimia obat (BKO). Jamu BKO ini merusak citra dan menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap kualitas jamu. Pasar jamu domestik, lanjutnya, juga terancam dengan gencarnya iklan herbal dan klinik asing di berbagai media.

“Padahal, BPOM memberlakukan aturan ketat iklan herbal. Tapi, kenapa kok herbal dan klinik asing bisa pasang iklan, sementara klinik lokal tidak,” kata dia. Untuk hambatan ekspor, Wakil Ketua GP Jamu Abdul Ghani menambahkan, ada pada kurang seriusnya pemerintah mempromosikan produk jamu di luar negeri.

Pemerintah, kata dia, berulang kali membuat persyaratan bagi produk jamu dalam negeri yang akan diekspor. Hingga kini, jamu belum dipantenkan menjadi budaya asli Indonesia.

Tjandra melanjutkan, GP Jamu kini memiliki 1.166 anggota terdiri industri besar, menengah dan kecil. Kurang lebih tiga juta tenaga kerja terserap di industri jamu skala besar, sedangkan 12 juta orang di industri menengah dan kecil.

Selain jamu, industri ini memproduksi makanan, minuman, suplemen makanan, spa, aroma terapi dan kosmetik. Total omzet tahun lalu mencapai Rp10 triliun, atau naik dibandingkan 2009 sebesar Rp8,5 triliun. “Tahun ini, target (omzet) industri ini meningkat 15 persen. Tapi, melihat hambatan di atas tentu kami realistis,” jelas Tjandra.
(Sudarsono/Koran SI/ade)

<b>Jamu Tradisional</b> : Harga Bahan Melonjak, Pengusaha Jamu Pakai <b>...</b>

Posted: 26 Apr 2011 12:07 AM PDT

Jamu Tradisional : Harga Bahan Melonjak, Pengusaha Jamu Pakai Essense ?

Dalam pidatonya, Wapres Boediono mengajak semua pihak untuk mengembangkan jamu dan obat tradisional

JAKARTA - Industri jamu mengalami kesulitan akibat harga bahan baku melonjak tinggi. Perlu dukungan konkret dari pemerintah untuk menyelamatkan industri itu.

"Kalau begini terus, pengusaha jamu terpaksa memakai essence untuk menekan biaya produksi. Mereka tidak mau lagi menggunakan bahan baku asli jamu," kata Ketua Umum Asosiasi Gabungan Pengusaha Jamu dan Obat Tradisional (GP Jamu) Charles Saerang, Senin (25/4/2011).

Saerang menyatakan hal itu seusai pembukaan Munas GP Jamu VI oleh Wakil Presiden Boediono di Istana Wapres.

Data yang dilansir GP Jamu menyebutkan, harga jahe kering naik dari Rp 36.000 per kilogram (kg) menjadi Rp 120.000 per kg (400 persen). Harga temulawak meningkat menjadi Rp 17.500 per kg dari Rp 10.000 per kg. Bahan baku jamu lain, puyang dan adas, naik 33 persen dan 15,4 persen.

"Enam bulan terakhir harga bahan baku jamu melonjak. Bukan hanya karena cuaca, tetapi juga pembelian dari luar, terutama Pakistan dan Banglades, yang tahu manfaat jahe," ujar Saerang, Seperti dilansir laman Menkokesra.

Kalau tidak ada dukungan dari pemerintah, menurut Saerang, bukan tidak mungkin rakyat Indonesia nantinya tidak mengenal jamu asli. "Orang nanti hanya mengenal jamu essence, bukan jamu asli," katanya.

Ia memaparkan, omzet jamu Indonesia tahun 2009 sebesar Rp 8,5 triliun. Omzet ini meningkat menjadi Rp 10 triliun pada 2010. "Namun, dari jumlah itu, industri jamu hanya menyumbang Rp 3 triliun. Sisanya adalah suplemen makanan, kosmetik, dan sebagainya," ucap Saerang.

Dalam pidatonya, Wapres Boediono mengajak semua pihak untuk mengembangkan jamu dan obat tradisional. Ia meminta Menteri Perindustrian menyusun cetak biru pengembangan industri jamu.(c8/lik)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar